jps

Menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045 Dengan Penguatan Nilai – Nilai Bela Negara Humanis

Oleh : Jon Piter Sinaga (Ketua Umum FKBNI)

Bela Negara Humanis merupakan manisfestasi Bela Negara yang dilakukan dengan cara-cara humanis, ditujukan dalam upaya-upaya penguatan nila-nilai bela negara. Sebagaimana dimaksud bela negara dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 3 tentang setiap warga negara berhak dan wajib bela negara dan Pasal 30 ayat 1 dan 2 tentang setiap warga negara ikut serta dalam usaha pertahanan dan ketahanan negara. Kerangka pemikiran Bela Negara Humanis itu berdasar pada berbagai ancaman negara yang berasal dari dalam maupun luar negeri, baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik.

Dalam UU No.3 Tahun 2002, ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan baik dari dalam maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman itu dapat dipicu dengan isu-isu kemiskinan dan kebodohan atau issu kesenjangan sosial serta issu ketidak adilan yang menimbulkan tindak kekerasan, seperti; radikalisme, intoleransi, diskriminasi, intervensi politik, etnosentris maupun masuknya budaya asing dan gejala stereotip suatu pandangan buruk suku/etnis atau agama ditujukan pada suku/etnis dan agama lain.

Ancaman negara sesuai dengan UU No. 23 tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) untuk pertahanan negara pada ayat (2) dapat berwujud agresi, terorisme, komunisme, separatisme, pemberontakan bersenjata, bencana alam, kerusakan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian sumber daya alam, wabah penyakit, peredaran dan penyalahgunaan narkoba, serangan siber, serangan nuklir, serangan biologi, serangan kimia, atau wujud ancaman yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik lndonesia, dan keselamatan segenap bangsa.

Ancaman keutuhan bangsa dalam NKRI dimaksud belum termasuk didalamnya berbagai unsur kekerasan sosial yang ditimbulkan akibat buruknya pelayanan publik dan rendahnya kesadaran taat azas berbangsa dan bernegara, dimana manusia sebagai obyek dan subyeknya. Manusia bukanlah seungguk daging akan tetapi ciptaan Allah yang mempunyai nilai-nilai kejiwaan dan kerohanian yang saling mengihidupi serta memiliki rasa empati pada sesamanya dalam arti sebangsa dan setanah air. Kesamaan derajat, manusia sebagai gambar Allah merupakan wujud nyata bela negara humanis yang harus dimiliki secara sadar, mengingat kerap terjadi permusuhan atau ungkapan kebencian pada masyarakat. Berbagai ancaman itu akan lebih mudah terjadi secara masif searah dengan perkembangan arus informasi yang serba otomatis, sebagaimana kita ketahui dampak media informasi bagaikan pedang bermata dua apabila tidak dikelola dengan baik.

Pada prinsipnya Bela Negara terbagi dalam dua golongan besar, yakni ; (1) Bela Negara dalam bentuk fisik yaitu dengan cara mengangkat senjata apabila ada ancaman atau serangan dari negara asing terhadap kedaulatan bangsa dan negara dan; (2) Bela Negara dalam bentuk nonfisik yaitu semua usaha untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara dengan cara berperan aktif untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara melalui terbentuknya sikap nasionalisnme dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Bela Negara Humanis adalah suatu bentuk refleksi diri sebagai subyek sekaligus menjadi obyek dengan memandang secara bebas mengelola potensi diri sendiri yang bertanggung jawab atas hidup orang lain. Bela negara adalah kebulatan tekad, sikap dan tindak nyata setiap warga negara yang dilakukan secara ikhlas, sadar dan disertai kerelaan berkorban sepenuh jiwa raga yang dilandasi kecintaan keutuhan NKRI berdasarkan azas Pancasila dan UUD 1945, serta makna Bhinneka Tunggal Ika.

Dasar pemikiran kronologis terjadinya berbagai jenis ancaman keutuhan NKRI itu maka penguatan nilai-nilai bela negara humanis sangat perlu untuk dilakukan kepada masyarakat luas, khususnya ditujukan pada unit-unit pelayan publik.  Sehingga diharapkan terciptanya sikap humanis pada semua unit-unit pelayanan publik, seperti ; pelayanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan dan unit sosial ekonomi lainnya.

Permusuhan dan ungkapan kebencian kerap terjadi seiring akibat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar individu, akibatnya dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, dan kerusakan akan lingkungannya. Kebutuhan dasar merupakan unsur yang paling dibutuhkan masyarakat guna mempertahankan keseimbangan fisiologis, maupun psikologis yang bertujuan mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Abraham Maslow menjelaskan kebutuhan dasar terbagi dalam 5 bahagian, yaitu ; (1) Kebutuhan fisiologis ; (2) Kebutuhan akan rasa aman ; (3) Kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang ; (4) Kebutuhan akan penghargaan ; dan (5) Kebutuhan akan aktualisasi diri.

Karena itu penguatan akan nilai-nilai Bela Negara Humanis yang merupakan suatu bentuk perubahan sosial dan perilaku menjadi kewajiban untuk dapat segera disikapi guna memelihara dan menjaga keutuhan NKRI. Mengingat Indonesia salah satu negara kepulauan wilayah terluas dan memiliki bangsa terbesar dibelahan dunia dengan masyarakatnya paling majemuk, atas dasar keragaman ras/etnis, suku, agama dan budaya.  Keberagaman itu dipandang sangat berpotensi pada terjadinya disintegrasi bangsa atau bentuk pertikaian sosial lainnya. Perbedaan ras/etnis, suku, agama, budaya bangsa dapat dengan mudah dimobilisasi menjadi ruang disintegrasi bangsa, kemudian dapat dengan mudah dijadikan pintu gerbang masuknya budaya asing ataupun campur tangan asing.

Apabila berbagai ancaman telah dikemukakan diatas sebagai bentuk ruang disintegrasi bangsa tidak disikapi dengan penguatan bela negara humanis, maka tidak tertutup kemungkinan negeri ini akan mengalami perang saudara dan atau negara Indonesia jatuh pada tangan penjajahan negara lain.

Didalam penguatan nilai-nilai Bela Negara dengan cara Humanis diharapkan, terciptanya ; (a) kesadaran berbangsa dan bernegara, (b) sikap taat azas, (c) rela berkorban tanpa pamrih, (d) sadar akan agama dan budaya sebagai sumber moral yang mengajarkan keadilan, kejujuran dan kebaikan. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah institusi yang dapat menggandeng semua elemen bangsa, baik dari kalangan profesi, praktisi/akademisi, terutama lembaga-lembaga pendidikan. Dengan harapan semua pejabat publik (ASN/TNI/Polri) diharapkan dapat berperilaku humanis kepada masyarakat luas pada semua unit-unit pelayanan publik.

Untuk tercapainya penguatan nila-nilai bela negara humanis, disarankan beberapa langkah yang harus dilakukan :

  1. Penguatan nila-nilai bela negara humanis dilingkungan lembaga-lembaga pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal nonformal/informal, termasuk didalamnya berupa pengadaan buku-buku Pendidikan Humanis, kurikulum bersifat muatan lokal dan nasional.
  2. Penguatan nila-nilai bela negara humanis pada unit-unit pelayanan kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan profesi/nonprofesi, praktisi/akademisi.
  3. Penguatan nila-nilai bela negara humanis pada semua jenis pelayan publik (Pemerintah/Penyelenggara Negara/BUMN) melalui bentuk-bentuk kajian praktisi dan akademisi.
  4. Penguatan nila-nilai bela negara humanis pada masyarakat luas tentang pencegahan kerusakan lingkungan,
  5. Penyajian atau pembelajaran Penguatan nila-nilai bela negara humanis dapat dilakukan dalam bentuk klasikal dan nonklasikal serta dengan kurikulim disertai dengan adanya Buku Modul, Rencana Program Study (RPS)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *